Bantu Korban Kelaparan Pulau Seram

WILAYAH : KAB. MALUKU TENGAH,


Tentu tidak terbayang dalam benak kita yang hidup di perkotaan, di era kekinian, masih ada sebagian masyarakat yang hidup secara primitif dengan mengandalkan hutan sebagai sumber penghidupan. Akan tetapi, sudah bukan hal baru bagi Laznas BMH. Di beberapa wilayah Indonesia masyarakat primitif perlahan mulai sering ditemukan. Seperti di Halmahera, Jambi dan Morowali Utara. Terbaru adalah musibah kelaparan yang dialami oleh Suku Mausuane yang berada di pedalaman Pulau Seram Maluku Tengah, tepatnya di hutan yang berada di kawasan Kecamatan Kobisonta. Mendapati berita tersebut, Tim BMH Perwakilan Maluku yang diketuai oleh Ali Ikrom, SH.I bersegera menuju lokasi membawa bantuan.

WhatsApp-Image-2018-07-27-at-16.04.05.jpeg

“Rabu lalu (25/7) dari kantor tim menuju Pelabuhan Hunimua memakan waktu satu setengah jam. Tepat pukul 14.00 fery bergerak menuju Pelabuhan Ina Marina Masohi Pulau Seram Maluku Tengah, tiba setelah menempuh 4 jam perjalanan,” terangnya.

Dari Masohi tim mesti menempuh perjalanan selama 8 jam menuju Kobisonta. Setiba di Kobisonta, untuk bisa ke lokasi BMH harus menunggu mobil logistik Pangdam. Hal ini karena tidak ada alternatif selain kendaraan milik Pangdam. Akhirnya, setelah melaju selama lebih dari satu jam setengah, lewat bantaran sungai, menyusuri kebun sawit dan sesekali menyeberang sungai. BMH bersama TNI tiba di tempat masyarakat primitif tersebut.

WhatsApp-Image-2018-07-27-at-16.04.01.jpeg

“Sebagai sesama manusia kondisi ini jelas sangat memprihatinkan sekaligus mengharukan. Di masa seperti ini masih ada masyarakat primitif yang kemudian harus kelaparan dan meninggal dunia. Setiba di sana, rasa itu mendominasi kami semua, sehingga lelah dan beragam pengorbanan yang diberikan seakan tiada. Semua terasa luarbiasa,” urai Ikrom.

WhatsApp-Image-2018-07-27-at-16.02.34.jpeg

Atas kehadiran BMH, pihak Suku Mausuane menyatakan senang dengan raut wajah mereka dan dibantu penerjemah. Namun, mengatasi masalah ini tidak bisa serta merta. “Rencana selanjutnya bergantung pada situasi yang berkembang, mengingat banyak faktor yang mesti diperhatikan. Kalau dari sisi logistik, di hutan sekarang sudah sangat tersedia. Tetapi yang menjadi soal adalah masyarakat belum kenal dengan masak-memasak, sehingga perlu penanganan secara lebih komprehensif,” urainya.

WhatsApp-Image-2018-07-27-at-16.02.13.jpeg

Sempat muncul ide untuk dibuatkan tempat tinggal minimalis, tetapi langkah ini juga belum diputuskan, mengingat butuh pendamping untuk memahamkan mereka berhenti dari budaya nomaden. Meski demikian, BMH tetap menerima bantuan dan kepedulian kaum Muhsinin untuk membantu mereka yang tak berdaya. “Kami tetap menerima bantuan dari semua pihak, mengingat sosok dai tangguh yang terdekat dari lokasi juga sudah ada,” pungkas Ikrom.*/Herim
Tidak ditemukan hasil

Admin

Created Aug 01, 2018 KAB. MALUKU TENGAH

Campaign Tidak Terbatas

Rp.3,200,658 dari Rp.100,000,000 kebutuhan dana

3% Terkumpul by 3 Donasi Sedekah